TREN EPIDEMIOLOGI DAN INVESTIGASI KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DAN TUBERKULOSIS (TB) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 23 ILIR KOTA PALEMBANG TAHUN 2023–2025

Authors

  • Ayu Febri Wulanda Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang, Indonesia
  • Esti Sri Ananingsih Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang, Indonesia
  • Alisa Khairunnisa Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang, Indonesia
  • Ririn Agustina Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang, Indonesia
  • Agi Husnah Indragati Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang, Indonesia
  • Nadia Ramadhani Politeknik Kesehatan Kemenkes Palembang, Indonesia

Keywords:

Demam Berdarah Dengue, Tuberkulosis, epidemiologi, investigasi wabah, surveilans, prevalensi, attack rate

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Tuberkulosis (TB) merupakan dua penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di wilayah kerja Puskesmas 23 Ilir Kota Palembang. Penelitian ini bertujuan menganalisis tren epidemiologi dan hasil investigasi kedua penyakit tersebut selama periode 2023–2025 menggunakan data surveilans sekunder. Hasil analisis menunjukkan jumlah kasus DBD meningkat dari 7 kasus pada tahun 2023 menjadi 11 kasus pada tahun 2024, dan tetap 11 kasus pada tahun 2025, dengan prevalensi 0,23% dan attack rate 0,08%. Pola kasus DBD dipengaruhi oleh musim penghujan, kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan yang buruk, serta rendahnya partisipasi masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus, dengan kelompok usia 5–14 tahun sebagai kelompok paling rentan. Hasil investigasi epidemiologi terhadap kasus DBD terkonfirmasi menunjukkan seluruh kontak erat (100%) tidak menunjukkan gejala pada saat pemeriksaan, dengan proporsi kontak erat perempuan (76%) lebih tinggi dibanding laki-laki (24%). Sebaliknya, kasus TB menunjukkan tren menurun, dari 29 kasus terkonfirmasi pada tahun 2024 menjadi 16 kasus pada tahun 2025, dengan prevalensi 0,36%, meskipun terdapat kesenjangan antara target skrining dan realisasi penemuan kasus terduga di lapangan. Disimpulkan bahwa pengendalian DBD memerlukan penguatan PSN 3M Plus, peran kader jumantik, dan edukasi lingkungan, sementara pengendalian TB memerlukan optimalisasi skrining aktif, kepatuhan pengobatan Directly Observed Treatment Short-course (DOTS), dan perbaikan kualitas data surveilans agar tidak terjadi underreporting.

References

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Pedoman pencegahan dan pengendalian demam berdarah dengue di Indonesia. https://digilib.upnb.ac.id/items/show/526

Kementerian Kesehatan RI. (2019). Buku saku stop demam berdarah. Kementerian Kesehatan RI. https://repository.kemkes.go.id/book/326

Kementerian Kesehatan RI. (2021). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/Menkes/4636/2021 tentang pedoman nasional pelayanan kedokteran tata laksana infeksi dengue anak dan remaja. Kementerian Kesehatan RI. https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/17001076746555959a3506a2.33052739.pdf

Kementerian Kesehatan RI. (n.d.). Deteksi dini demam berdarah dengue (DBD). Kementerian Kesehatan RI. https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/17169572496656b041cb8755.43910670.pdf

Kementerian Koperasi dan UKM & Kementerian Kesehatan RI. (2023). Pedoman penanggulangan DBD di lingkungan kantor dan rumah. https://kemenkopmk.go.id/sites/default/files/artikel/2023-09/E-BOOK%20PEDOMAN%20PENANGGULANGAN%20DBD%20DI%20LINGKUNGAN%20KANTOR%20DAN%20RUMAH.pdf

World Health Organization. (2009). Dengue: Guidelines for diagnosis, treatment, prevention and control. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789241547871

World Health Organization Regional Office for South-East Asia. (2011). Comprehensive guidelines for prevention and control of dengue and dengue haemorrhagic fever (Rev. and expanded ed.). World Health Organization Regional Office for South-East Asia. https://iris.who.int/handle/10665/204894

Downloads

Published

2026-07-09